Jumat, 01 Januari 2010

multiple intelligence, kecerdasan musik


Sidik Jari dan Kecerdasan

Kecerdasan musik sering kali mudah dalam mengidentifikasikannya. Namun orang tua perlu mengetahui tingkat kecerdasan tersebut sehingga dapat menstimulasi anak dengan tepat. Interaksi intelligensi dalam multiple intelligence dapat diidentifikasi dengan akurasi cukup tinggi melalui tes sidik jari. Interaksi antar inteligensi dapat digambarkan melalui gambaran yang kita temukan dalam realita. Ada orang yang kecerdasan musiknya tinggi tetapi hanya menjadi penikmat musik, penyanyi, pemain musik, penggubah lagu, bahkan ada pula yang bisa menyanyi, memainkan alat musik dan sekaligus mencipta lagu.

Hal ini menandakan adanya interaksi antar inteligensi. Tidak semua orang yang senang musik ( atau pada anak gejalanya nampak ketika mendengarkan sebuah lagu ia mengangguk-anggukkan kepalanya atau menggerakkan tangan dan kakinya ) bisa memainkan alat musik dengan piawai. Untuk memainkan alat musik dibutuhkan kecerdasan dexterity atau ketrampilan tangan. Bila individu tidak cerdas secara dexterity maka dibutuhkan waktu yang cukup lama agar ia bisa memainkan alat musik. Anggapan sebagian orang tua untuk memberikan anaknya kursus piano atau organ, yang dipercaya dapat menyeimbangkan kedua belah otak ternyata mengalami hambatan karena kemampuan dexterity anak tidak menunjang. Oleh karena itu, hal pertama yang perlu dipahami adalah mengidentifikasi bakat anak terlebih dahulu.

Gambaran interaksi antar inteligensi juga nampak manakala kita mengetahui ada orang yang bisa menyanyikan lagu dan melakukan gubahan lagu dalam waktu singkat. Ia bisa menyusun lirik lagu dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan atau acara yang sedang berlangsung. Sesungguhnya kecerdasan menyanyi individu berinteraksi dengan kecerdasan imajinasinya. Ada pula individu yang tak mau merubah lirik lagu dan bahkan ia meniru persis sebagaimana penyanyi yang memperkenalkan lagu tersebut. Ia menirukan persis sampai dengan gaya dan cengkoknya. Hal ini dikarenakan kecerdasan imajinasinya rendah sehingga ia bisa meniru bukan mencipta atau berkreasi.

Kecerdasan Musik sesungguhnya merupakan kemampuan untuk mempersepsikan, mendiskriminasikan, mengubah dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini juga mencakup kepekaan akan ritme, tingkatan nada atau melodi atau warna suara dari suatu karya musik.

Individu yang memiliki kecerdasan musik cukup tinggi memiliki gejala perilaku :
• Memiliki kepekaan terhadap pola-pola suara.
• Mampu membedakan suara-suara atau memiliki kepekaan akan suara musik.
• Memiliki kemampuan untuk menentukan nada dan irama dengan baik.
• Bersama dengan kecerdasan gerak yang cukup maka ia mudah bergerak mengikuti irama.
• Dapat mengingat nada-nada dan pola suara dari suatu karya musik.

Namun karakter musik setiap individu berbeda. Ada yang lebih menyukai musik-musik yang lembut. Mereka tak bisa menerima perbedaan intonasi atas nada atau bunyi yang melonjak terlalu tinggi. Ada pula tipe karakter yang peka terhadap suara. Tipe ini mudah emosional manakala suara sound systemnya kurang tepat. Seringkali dalam sessi konsultasi kami menyarankan untuk membelikan sound system yang bagus sekalian. Ada yang suka semua jenis lagu, tetapi ada yang suka menyanyikan lagu yang diulang-ulang manakala ia dalam keadaan gembira tetapi tak mau mendengar lagu kalau berada dalam keadaan sedih atau kalut. Sedangkan tipe lainnya ada yang justru membutuhkan lagu manakala ia merasa sedih.

Informasi karakter cukup berarti dalam mengembangkan kecerdasan musik anak. Seorang anak mengikuti lomba organ, ia berlatih sungguh-sungguh untuk dapat tampil sebagai juara. Gerakan jemari dan kakinya dalam menekan tuts cukup diperhatikan. Tetapi ayahnya menghendaki ia memainkan lagu bukan yang berirama musik lembut. Mereka memilih lagu yang tepat untuk dibawakan pada kejuaran. Kesungguhannya berlatih membawa anak sampai dapat menyisihkan para pesaingnya. Namun ketika tampil dengan lagu yang bukan berirama lembut, ia mengalami beberapa kesalahan kecil dimana pada akhirnya ia tampil sebagai juara harapan 2. Sang anak juga menyatakan protes pada papanya, bahwa sesungguhnya ia lebih senang pada lagu yang pertama kali dipilihnya. Hal ini menandakan bahwa karakter musik individu juga cukup penting dalam pengembangan kecerdasan musiknya.

Beberapa alternatif stimulasi yang dapat dilakukan orang tua manakala ingin meningkatkan kecerdasan musik putranya adalah :

• Mengikut sertakan kursus bina vokalia, atau menganjurkan bernyanyi setiap hari dengan target lagu yang ditetapkan.
• Mengikuti kursus untuk memainkan alat musik, hendaknya dipilih sesuai dengan kecerdasan dexteritynya. Bila kecerdasan dexteritynya tinggi maka organ / piano cukup bagus, namun bila rendah maka pilihannya adalah alat musik yang sedikit menggunakan gerak jemarinya. Bila kecerdasan gerak tubuhnya tinggi maka pilihan untuk kersus drum cukup baik.
• Menyarankan anak untuk mendengarkan irama alam dan mencari polanya.
• Menganjurkan menggunakan puisi, sajak atau nyanyian untuk mengekspresikan perasaannya.
• Sesuai dengan karakternya maka anak juga dapat distimulasi mendengar musik dengan irama atau ketukan yang berbeda.
• Setiap hari mendengarkan lagu dan mengumpulkan sampai dengan 1000 lagu, untuk melatih perkembangan ketajaman kecerdasan musiknya.

Tentu saja pilihan karir bagi individu dengan kecerdasan musik yang tinggi adalah : Pemain Musik, Penulis Lagu, Editor Musik, Pembuat Sound track film, terapis musik, Pengelola Studio Musik dan Rekaman, Pemimpin Orkestra.

Demikian yang bisa kami sharingkan berkaitan dengan mutiple intelligence dan Tes Sidik Jari.

Salam Sukses Selalu
Drs.Psi. Reksa Boeana
Executive Partner Smart Business Solution.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar